Suatu pagi Kepala Personalia Suatu Perusahaan ingin Menguji kejujuran pegawai baru di perusahaan itu.
"Kalau kamu mau bekerja di sini, anak muda," kata Kepala Personalia, "Kamu harus selalu menjaga kebersihan di perusahaan ini.
Apakah tadi kamu membersihkan sepatumu di keset sebelum memasuki kantor ini?"
"Oh, sudah, Pak."
"Dan satu lagi, kami juga sangat menghargai kejujuran. Di pintu depan kantor ini, harap kau ketahui anak muda, tidak pernah ada keset kaki!" (ketawa.com)
Kamis, April 23, 2009
KPU Pleno-KPU Didemo
22-24 April 2009 KPU Lombok Tengah Rapat Pleno di Gedung KONI. Selama tiga hari itu pula lokasi rapat pleno dijaga ketat aparat Kepolisian bersejata lengkap “standar pengamanan demo”. Mungkin karena sudah diantisipasi atau memang karena pendemonya yang nanggung jumlahnya jadi selalu nampak lebih banyak polisinya dibanding pendemonya. Padahal para pendemo mewakili beberapa caleg dari partai besar, katanya. Mungkin karena itu dampaknya tidak terlalu terasa seperti demo di kota besar. Jadinya sangat sederhana dan tidak neko-neko apalagi sampai rusuh. Pendemo bersorak-sorak, oratornya berteriak-teriak sendiri, polisinya tenang-tenang saja. Yang didemo adalah kinerja KPU yang ujung-ujungnya dianggap merugaikan caleg, seperti berkurangnya perolehan suara sehingga sang caleg gagal melangkah ke gedung dewan. Jadilah pelaksanaan demonstrasi yang berjalan aman dan terkendali. Perlu dicontoh, mungkin oleh pendemo di tempat lain yang doyan meramunya dengan rusuh dan merusak.
Rabu, April 22, 2009
Selasa, April 21, 2009
Kartini dan Kontroversinya

Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.
Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.(Wikipedia Indonesia)
Kartini dan Pikirannya

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.(Wikipedia Indonesia)
Terkenang Masa Lalu
Cita-cita Joni setelah menikah dia ingin mandiri maksudnya dia tidak ingin setelah menikah tinggal di rumah orang tuanya atau rumah mertuanya, karena ia ingin langsung punya rumah entah rumah sendiri ataupun rumah kontrakan. Akhirnya Joni menikah dengan Aminah.
Cita-cita Joni punya rumah sendiri akhirnya kesampaian juga meskipun hanya rumah kontrakan saja.
Joni bingung kenapa baru menikah tiga hari isterinya Aminah kelihatan kecewa.
Joni : "Baru dua hari menjadi isteriku, mengapa kau murung, sayang ? Apakah kau kecewa karena rumah yang kita tempati ini hanya rumah kontrakan ?"
Aminah : "Bukan itu yang membuatku kecewa, Mas."
Joni : "Jadi apa yang membuatmu kecewa ?"
Aminah : "Rumah yang kita kontrak ini adalah milik pacar pertamaku. Aku jadi terkenang padanya karena di kamar inilah aku dulu sering berduaan bersamanya. "
Joni : "Haa...!!!???" (ketawa.com)
Cita-cita Joni punya rumah sendiri akhirnya kesampaian juga meskipun hanya rumah kontrakan saja.
Joni bingung kenapa baru menikah tiga hari isterinya Aminah kelihatan kecewa.
Joni : "Baru dua hari menjadi isteriku, mengapa kau murung, sayang ? Apakah kau kecewa karena rumah yang kita tempati ini hanya rumah kontrakan ?"
Aminah : "Bukan itu yang membuatku kecewa, Mas."
Joni : "Jadi apa yang membuatmu kecewa ?"
Aminah : "Rumah yang kita kontrak ini adalah milik pacar pertamaku. Aku jadi terkenang padanya karena di kamar inilah aku dulu sering berduaan bersamanya. "
Joni : "Haa...!!!???" (ketawa.com)
Kelucuan Kekuasaan

Disalah satu stasiun televisi, pelawak Polo mencoba menjelaskan mengapa kelompok lawak Srimulat tak lagi eksis berpentas di Taman Ria Senayan.
Jawabannya karena Srimulat sudah kalah lucu dari pentas di gedung sebelahnya (Gedung DPR/MPR). Walaupun hanya guyonan, hal itu justru memicu hadirnya pertanyaan serius: apakah kekuasaan itu lucu? Jawabannya akan sedikit lebih tegas andai saja gedung parlemen itu dipenuhi para pelawak.
Namun, bisa saja Polo menyangkal bahwa tanpa kehadiran para pelawak pun perilaku politisinya tak kalah seru mengundang tawa. Jumlah politisi artis, termasuk yang berlatar belakang pelawak, diperkirakan melonjak pasca-Pemilu 9 April 2009.
Namun, belum tentu kelak mereka bisa melucu di forum-forum DPR yang menuntut keseriusan. Bisa jadi "politisi pelawak" sangat menyadari bahwa kalau mereka melucu, belum ada jaminan menang lucu dibandingkan yang lain.
Bisa jadi justru "politisi bukan pelawak" malah lebih lucu. Barangkali karena itulah, "politisi pelawak" seperti Komar sungguh tampak tidak lucu lagi di kala mengikuti rapat-rapat DPR. Soal kelucuan politik, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)-lah maestronya. Sewaktu menjadi presiden, banyak joke (cerita lucu) yang dilontarkannya.
Buku kumpulan leluconnya sangat laris saat itu. Tak hanya para pejabat nasional dan lokal yang dibikin tertawa oleh cerita-cerita lucu sang presiden, tetapi juga bahkan Presiden Amerika Serikat waktu itu, Bill Clinton. Saking lucunya Gus Dur, ilmuwan sosial Arief Budiman pernah menyindir bahwa Gus Dur hendak menyelesaikan begitu kompleksnya urusan negara dan pemerintahan dengan lelucon.
Sungguh pun Gus Dur lantas lengser secara dramatis melalui Sidang Istimewa MPR yang dipercepat, dia tercatat telah membawakan sejumlah perubahan mendasar. Gus Dur adalah salah satu khazanah bangsa di dunia politik, yang hendak membuktikan bahwa "kekuasaan itu lucu".
Bahwa ada dimensi kelucuan dalam kekuasaan. Gus Dur ingin membuktikan bahwa di era demokrasi pun kelucuan-kelucuan kekuasaan itu masih demikian melekat. Gus Dur sendiri pernah memberi kata pengantar sebuah buku humor politik Mati Ketawa Cara Rusia dan memberikan pesan bahwa otoritarianisme bisa dilawan dengan lelucon.
Lucu
Namun, apakah lucu itu? Secara sederhana pertanyaan itu dapat dijawab, lucu adalah sesuatu yang membuat kita tertawa. Kalau itu yang jadi soal, pertanyaannya adalah apa saja yang membuat kita tertawa? Marilah kita bikin daftar: (1) lucu yang datangnya dari kisah-kisah yang tidak logis, sarkastik, kurang masuk akal ala Gus Dur; (2) menertawakan keteledoran, kelalaian, kepongahan, bahkan kemalangan ala Charlie Chaplin; (3) lucu karena ada gerakan-gerakan tertentu yang membuat tertawa.
Kelucuan adalah drama komedi, lawan dari tragedi. Sayangnya banyak hal yang membuat kita justru menertawakan musibah. Film-film komedi yang dibintangi Charlie Chaplin atau film kartun Tom and Jerry penuh adegan musibah alias kemalangan dan kita terbahak-bahak. Adegan-adegan slapstick dalam film-film komedi memang sering terkesan terlalu dibuat-buat untuk memaksa penontonnya tertawa.
Ada skenario lucu yang dikarang terlebih dulu, beberapa adegan sengaja dibikin hiperbolis guna mengundang tawa. Namun, ada juga yang memang bersifat situasional atau yang dikenal dengan istilah komedi situasi. Ini lebih merupakan adegan lucu yang tanpa diskenariokan.
Barangkali kelucuan jenis inilah yang banyak mengemuka di panggung-panggung politik kita.Tentu saja para kampanyewan dan kampanyewati tidak berniat melucu sewaktu orasi tebar janji dan bernyanyi-nyanyi. Tentulah para negosiator politik (baik lelaki maupun perempuan) tak bermaksud melucu saat menentukan perubahan-perubahan sikap politik yang ekstrem.
Namun, hal-hal itu banyak ditafsirkan orang sebagai kelucuan- kelucuan tersendiri. Para penyindir kekuasaan telah memperoleh banyak bahan dari perilaku-perilaku para politisi dalam memanfaatkan dan menciptakan bahasa politiknya.
Politik tak hanya seni menentukan koalisi dan kebijakan, tetapi juga seni berkata-kata, dan jauh daripada itu berbahasa. Menurut novelis George Orwell (1946), "Political language is designed to make lies sound truthful and murder respectable, and to give an appearance of solidity to pure wind". Apakah politik itu semacam sistematisasi kebohongan yang dimaafkan? Pertanyaan ini tentu segara memunculkan perdebatan.
Tidak Lucu
Tapi, peristiwa politik kadang juga disebut sebagai "tidak lucu". Istilah ini lebih merujuk pada kejengkelan, kedongkolan bahkan kemarahan pada suatu peristiwa politik. Misalnya, banyaknya warga masyarakat yang punya hak pilih tetapi tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu Legislatif 9 April sungguh "tidak lucu". Yang "tidak lucu" itu tentu sudah dirasakan keterlaluan dan sangat mengganggu.
Janji-janji politisi yang di luar nalar, sangat melambung dan absurd, tentu juga sudah "tidak lucu" sedari awal. Jadi batas antara yang "lucu" dan "tidak lucu" dalam politik sangat tipis dan kontekstual. Kalau demikian, politisi yang suka berpindah-pindah partai, apakah lucu atau tidak lucu? Yang suka berubah-ubah sikap "dalam sekejap" dan berlomba-lomba "balik badan" lucu atau tidak?
Barangkali kita akan mengukurnya bahwa kalau masih membuat kita tertawa, kita sebut lucu, tetapi kalau sudah membuat ketertawaan menjadi kejengkelan, maka sungguh tidak lucu. Para humoris mencoba mengklasifikasi guntingan-guntingan peristiwa dan adegan politik yang lucu dan menyisihkan yang tidak lucu untuk bahan lawakannya.
Namun, para kritikus politik sebaliknya, sibuk mencatat mana-mana dari adegan politik yang "tidak lucu". Kalau begitu di manakah tempat bagi Abu Nawas dan Nasruddin Hoja? Mereka "menertawakan kekuasaan" dengan caranya sendiri. Dalam suatu kisah, Abu Nawas sukses memantati Khalifah Harun al-Rasyid tanpa membuat sang raja marah, bahkan terpingkal-pingkal karena bagian pantat celana Abu Nawas diberi gambar yang lucu.
Kisah Nasruddin berikut menyinggung perilaku politisi. Suatu saat Nasruddin menjadi pelayan istana, termasuk mengurus makanan raja. Suatu hari di depan hidangan lezat raja bertanya, apakah hidangan itu terbuat dari sayuran terbaik di dunia.
Nasruddin menjawab teramat baik. Sang raja pun suka makanan itu, tapi lima hari kemudian bosan, dan memerintahkan untuk menyingkirkannya. Nasruddin berupaya membela diri dengan mengatakan bahwa hidangan itu dibuat dari sayuran terburuk di dunia.
"Belum satu minggu," kata raja, "engkau mengatakan itu sayuran terbaik, mengapa sekarang mengatakan yang terburuk?" Nasruddin menjawab, "Memang benar Tuanku, tapi dalam hal ini hamba pelayan raja, bukan pelayan sayuran." Esok kedelai, sore tempe.okezone.com(*)
Langganan:
Postingan (Atom)
