Letusan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta pada Selasa lalu ternyata tidak seberapa bila dibandingkan dengan letusan-letusan sebelumnya.
Letusan pada 1930 setidaknya telah membunuh 1.370 orang di 13 desa di lereng Merapi. Tapi ini bukan letusan terbesar. Letusan terbesar justru terjadi pada 1006. Saat itu seluruh Jawa tertutup abu vulkanik. Sayangnya tidak diketahui berapa korban akibat letusan itu.
Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Gunung Merapi mengalami letusan pertama pada 1006. Rata-rata Merapi meletus dalam siklus pendek antara 2 – 5 tahun, dan siklus menengah setiap 5 – 7 tahun.
Siklus terpanjang pernah tercatat setelah mengalami istirahat selama lebih dari 30 tahun, yaitu pada masa awal terbentuknya gunung aktif. Memasuki abad ke-16, siklus terpanjang Merapi adalah 71 tahun, jeda letusan 1587-1658.
Pusat Vulkanologi mencatat, letusan besar Merapi terjadi pada 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan sebelumnya terjadi empat tahun lalu, tepatnya pada 8 Juni 2006 pukul 09.03.
Saat itu pemerintah mengungsikan 17 ribu warga di lereng Merapi. Namun, dua orang yang berlindung dalam bunker di Kawasan Wisata Kaliadem, Kaliurang, justru terpanggang awan panas. Bunker tak bisa melindungi korban dari wedhus gembel yang suhunya masih 500-600 derajat celcius.
Selasa petang, 26 Oktober, Merapi kembali meletus. Erupsi pertama gunung Merapi terjadi sejak pukul 17.02 WIB, diikuti awan panas selama 9 menit. Kemudian berulang hingga erupsi terakhir pukul 18.21 yang menyebabkan awan panas selama 33 menit.
Awan panas ini telah meluluhlantakkan beberapa kampung di lereng Merapi. Setidaknya 30 orang meninggal atas musibah ini, termasuk juru kunci Mbah Maridjan dan redaktur senior VIVAnews.com, Yuniawan Nugroho. (VIVAnews.com)
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Minggu, Oktober 31, 2010
Tsunami Dalam Sejarah

Gempa berkekuatan 7,2SR yang mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Senin 25 Oktober 2010, menimbulkan serangan gelombang maut, tsunami. Seluruh pemukiman yang berada di pantai barat gugusan kepulauan itu diterjang tsunami sehingga menewaskan lebih dari 400 orang.
Indonesia tidak lagi asing dengan bencana itu. Pada Desember 2004, tsunami besar terjadi di Aceh. Lalu tiga bulan berikutnya terjadi di Nias. Setahun lagi, tepatnya 17 Juli 2006, tsunami juga terjadi di Pangandaran, Jawa Barat.
Rekam jejak tunami ternyata sudah terjadi sejak tahun 6.000 Sebelum Masehi. Laman media ilmiah Livescience.com mencatat daftar tsunami maha dahsyat yang pernah terjadi di bumi.
6.000 SM
Gugusan salju besar di Sisilia longsor dan jatuh ke laut. Longsor yang terjadi pada 8 ribu tahun lalu ini memicu bencana tsunami tersebar di Laut Mediterrania. Tidak ada catatan sejarah bencana ini. Hanya para ilmuwan geologi memperkirakan tsunami dengan kecepatan 320 kilometer per jam ini mencapai ketinggian gedung 10 lantai.
1 November 1755
Setelah gempa yang menghancurkan Lisbon, Portugal, dan mengguncang sebagian besar Eropa. Orang-orang banyak yang berlindung di perahu. Namun, tsunami justru terjadi. Tak pelak bencana ini menewaskan lebih dari 60 ribu orang.
27 Agustus 1883
Letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda, memicu tsunami yang menenggelamkan pesisir Sumatera, Jawa bagian utara, dan Kepulauan Seribu. Kekuatan gelombang bisa menyeret karang seberat 600 ton ke pantai. 36 ribu orang meninggal sia-sia.
15 Juni 1896
Gelombang setinggi 30 meter muncul sesaat setelah terjadi gempa di Jepang. Seluruh pantai timur disapu tsunami itu. 27 ribu orang meninggal.
1 April 1946
Gempa besar di Alaska menimbulkan gelombang besar di Hawaii. Bencana yang sering disebut sebagai misteri "April Fools Tsunami" itu menewaskan 159 orang.
9 Juli 1958
Gempa berkekuatan 8,3 SR di Alaska menyebabkan gelombang besar hingga 576 meter di Teluk Lituya, Alaska. Ini merupakan tsunami terbesar yang tercatat di zaman modern.
Untung saja, tsunami terjadi di tempat terisolir, sehingga tidak menimbulkan banyak korban. Tsunami ini hanya menyebabkan dua nelayan meninggal dunia, karena kapalnya karam diterjang ombak.
22 Mei 1960
Gempa bumi terbesar yang pernah tercatat sebesar 8,6 SR di Chile. Gempa ini menciptakan tsunami yang menghantam Pantai Chile dalam waktu 15 menit. Gelombang tinggi terjadi hingga 25 meter. Tsunami ini menewaskan 1.500 orang di Chile dan Hawaii.
27 Maret 1964
Gempa Alaska "Good Friday" berkekuatan 8,4 SR, menimbulkan gelombang 67 meter di kawasan Valdez Inlet, Alaska. Gelombang dengan kecepatan 640 kilometer per jam ini menewaskan lebih dari 120 orang. Sepuluh orang di antaranya dari Crescent City, California, yang juga mendapat kiriman ombak setinggi 6,3 meter.
23 Agustus 1976
Tsunami di Filipina barat daya menewaskan 8 ribu orang. Gelombang besar ini juga dipicu gempa bumi di sekitar pantai.
17 Juli 1998
Gempa dengan kekuatan 7,1 SR menghasilkan tsunami di Papua Nugini. Gelombang besa dengan cepat membunuh 2.200 orang.
26 Desember 2004
Gempa maha dahsyat dengan kekuatan 9,3 SR mengguncang di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa paling besar sepanjang 40 tahun terakhir ini menimbulkan gelombang tinggi di Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.
Setidaknya 320 ribu orang dari delapan negara meninggal dunia. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah.
28 Maret 2005
Tiga bulan kemudian tsunami juga terjadi di Sumatera. Gempa di lepas pantai Nias yang berkekuatan 8,7 SR itu memicu tsunami besar yang menewaskan 1.300 orang di Pulau Nias, Sumatera Barat. (vivanews.com)
Selasa, Maret 30, 2010
Soal UN Bocor di Percetakan, Pusat Evaluasi Daerah
Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan mengevaluasi pemerintah daerah terkait seleksi yang dilakukan pemerintah daerah dalam memilih percetakan soal ujian nasional (UN) yang dinilai menjadi sumber utama kebocoran UN.
Kita sedang mengevaluasi provinsi apakah bisa diberikan kepercayaan atau diambil alih oleh pu
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal ketika ditemui Kompas.com di Kemendiknas, Jakarta, Selasa (30/3/2010). Dikatakan Fasli, pihaknya akan mengevaluasi tiap-tiap provinsi apakah bisa diberi kepercayaan kembali dalam memilih perusahaan percetakan atau kewenangan pemilihan percetakan itu akan diambil alih oleh pemerintah pusat.
"Kita sedang mengevaluasi provinsi apakah bisa diberikan kepercayaan atau diambil alih oleh pusat, demi mutu terjangkau. Tapi ingat, kita juga harus memberdayakan daerah juga," katanya.(Kompas.com)
Fasli menyampaikan, pemerintah pusat telah memberikan kepercayaan kepada daerah dalam menyeleksi percetakan sesuai syarat-syarat percetakan yang mampu menjaga rahasia negara. Namun kenyataannya, kata Fasli, masalah di percetakan menjadi faktor utama kebocoran UN.
Oleh karena itulah, menurut Fasli, pemerintah daerah diminta pertanggungjawabannya untuk menindak percetakan yang nakal tersebut. "Terhadap semua perusahaan yang bersalah itu, kita mendorong daerah-daerah untuk memberikan sanksi," demikian Fasli.
Kita sedang mengevaluasi provinsi apakah bisa diberikan kepercayaan atau diambil alih oleh pu
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal ketika ditemui Kompas.com di Kemendiknas, Jakarta, Selasa (30/3/2010). Dikatakan Fasli, pihaknya akan mengevaluasi tiap-tiap provinsi apakah bisa diberi kepercayaan kembali dalam memilih perusahaan percetakan atau kewenangan pemilihan percetakan itu akan diambil alih oleh pemerintah pusat.
"Kita sedang mengevaluasi provinsi apakah bisa diberikan kepercayaan atau diambil alih oleh pusat, demi mutu terjangkau. Tapi ingat, kita juga harus memberdayakan daerah juga," katanya.(Kompas.com)
Fasli menyampaikan, pemerintah pusat telah memberikan kepercayaan kepada daerah dalam menyeleksi percetakan sesuai syarat-syarat percetakan yang mampu menjaga rahasia negara. Namun kenyataannya, kata Fasli, masalah di percetakan menjadi faktor utama kebocoran UN.
Oleh karena itulah, menurut Fasli, pemerintah daerah diminta pertanggungjawabannya untuk menindak percetakan yang nakal tersebut. "Terhadap semua perusahaan yang bersalah itu, kita mendorong daerah-daerah untuk memberikan sanksi," demikian Fasli.
Tiga Faktor Soal UN Bocor
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menyampaikan, ada tiga faktor yang menyebabkan kebocoran soal ujian nasional (UN). Dari ketiga faktor tersebut, masalah percetakan menjadi faktor utamanya. SOP-nya kan tidak boleh dicampur dengan percetakan lain, petugasnya tidak boleh keluar, punya ponsel, ini yang tidak bisa dipegang.
Hal tersebut disampaikan Fasli saat ditemui di Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, Selasa (30/3/2010). "Faktor utama di percetakan. SOP-nya kan tidak boleh dicampur dengan percetakan lain, petugasnya tidak boleh keluar, punya ponsel, ini yang tidak bisa dipegang, kerawanan utama di percetakan," kata Fasli.
Selain percetakan, kata Fasli, kerawanan kebocoran terjadi pada saat distribusi soal di rayon-rayon karena soal sempat tertahan di rayon sebelum didistribuskan kemudian ke sekolah-sekolah. Sementara faktor ketiga adalah pelaksanaan UN yang kurang pengawasan.
"Saat pelaksanaan ujian mereka bawa ponsel, saat mereka ke kamar mandi juga kemungkinan," ujar Fasli.(Kompas.com)
Hal tersebut disampaikan Fasli saat ditemui di Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, Selasa (30/3/2010). "Faktor utama di percetakan. SOP-nya kan tidak boleh dicampur dengan percetakan lain, petugasnya tidak boleh keluar, punya ponsel, ini yang tidak bisa dipegang, kerawanan utama di percetakan," kata Fasli.
Selain percetakan, kata Fasli, kerawanan kebocoran terjadi pada saat distribusi soal di rayon-rayon karena soal sempat tertahan di rayon sebelum didistribuskan kemudian ke sekolah-sekolah. Sementara faktor ketiga adalah pelaksanaan UN yang kurang pengawasan.
"Saat pelaksanaan ujian mereka bawa ponsel, saat mereka ke kamar mandi juga kemungkinan," ujar Fasli.(Kompas.com)
Sabtu, Maret 27, 2010
UN SMA/MA/SMK 2010 Berakhir
Pelaksanaan UN SMA/MA/SMK di Kabupaten Lombok Tengah berakhir 26 Maret 2010, sementara semua lega meskipun semua juga tahu pelaksanaan UN kemarin tidak bisa dibilang berjalan mulus, karena seperti pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya masih saja terjadi kesalahan prosedural (penyimpangan dari POS) atau tidak mengacu pada petunjuk teknis. Kejadian-kejadian atau kalau boleh disebut penyimpangan selama pelaksanaan UN berhasil diselesaikan dengan sebaik-baiknya dengan tetap berpedoman pada ketentuan yang berlaku. Sehingga secara nasional pelaksanaan UN di Kabupaten Lombok Tengah berjalan baik.
Secara nasional evaluasi terhadap pelaksanaan UN terutama terhadap terjadinya penyimpangan dan kecurangan seperti yang dilansir Kominfo Newsroom (BIP Kominfo), adalah sebagai berikut:
Siswa peserta Ujian Nasional (UN) tahun 2010 di dua sekolah menangah atas (SMA) di Provinsi Sumatera Utara, yaitu siswa SMA Negeri 2 Medan dan SMA Teladan Indrapura Kabupaten Batubara, wajib mengikuti UN Pengganti karena terindikasi adanya kecurangan atau tidak jujur dalam pelaksanaan UN awal pekan ini.
"Kami sedang melakukan investigasi terhadap berbagai kemungkinan terjadinya kebocoran di dua sekolah itu. Ketika tim menemukan ada fakta yang mengarah pada ketidakjujuran, maka harus dilakukan UN pengganti," kata Staf Khusus Mendiknas Bidang Komunikasi Media, Sukemi, dalam jumpa pers di Gerai Informasi dan Media (GIM), Gedung Kemendiknas RI, Jakarta, Jum’at (26/3).
Menurut dia, sebanyak 362 siswa peserta UN program IPA dan 78 siswa program IPS di SMA Negeri 2 Medan akan mengikuti UN Pengganti yang dilaksanakan 5 April 2010, sedangkan di SMA Teladan Indrapura Kabupaten Batubara, sebanyak 40 siswa program IPA dan 77 siswa program IPS akan mengikuti UN Pengganti pada tanggal yang sama.
"Mata pelajaran yang diganti dan terindikasi siswanya tidak jujur adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk program IPS, serta Bahasa Indonesia dan Biologi untuk program IPA," katanya.
Sukemi menambahkan, sebanyak 20 siswa program studi pariwisata di SMKN 1 Singaraja Buleleng, Bali, juga akan mengikuti UN Pengganti pada 31 Maret 2010, namun hal itu bukan karena ada indikasi kecurangan, melainkan akibat tertukar soal ujian.
Sedangkan di NTB, katanya, sebanyak 20 siswa program studi pariwisata di SMK Nusa Dua, Lombok Barat, akan mengikuti UN Pengganti pada waktu yang sama. "Pada UN utama sebelumnya, para siswa itu menerima soal matematika akuntansi, padahal seharusnya mereka mengerjakan soal matematika pariwisata.
Pada kesempatan itu ia menjelaskan bahwa Posko UN di Kemendiknas RI di Jakarta, hingga Kamis (25/3), telah menerima laporan 808 pesan singkat melalui telepon genggam (SMS), 35 laporan melalui telepon, dan satu laporan melalui faksimili, yang terkait dengan pelaksanaan UN 2010.
Dari jumlah itu, kata dia, kategori yang dilaporkan terkait berbagai kejanggalan menyangkut soal UN, yaitu sebanyak 45 persen dan dugaan kebocoran (23 persen). Kemudian laporan yang menyatakan bahwa UN 2010 telah berlangsung lancar sebanyak 20 persen, laporan mengenai adanya soal-soal UN dan kunci jawabannya enam persen, dan laporan adanya gangguan UN enam persen.
"Dari jumlah tersebut, laporan mengenai adanya dugaan kebocoran, manipulasi, gangguan, dan kejanggalan, trennya terus menurun," katanya.
Secara nasional evaluasi terhadap pelaksanaan UN terutama terhadap terjadinya penyimpangan dan kecurangan seperti yang dilansir Kominfo Newsroom (BIP Kominfo), adalah sebagai berikut:
Siswa peserta Ujian Nasional (UN) tahun 2010 di dua sekolah menangah atas (SMA) di Provinsi Sumatera Utara, yaitu siswa SMA Negeri 2 Medan dan SMA Teladan Indrapura Kabupaten Batubara, wajib mengikuti UN Pengganti karena terindikasi adanya kecurangan atau tidak jujur dalam pelaksanaan UN awal pekan ini.
"Kami sedang melakukan investigasi terhadap berbagai kemungkinan terjadinya kebocoran di dua sekolah itu. Ketika tim menemukan ada fakta yang mengarah pada ketidakjujuran, maka harus dilakukan UN pengganti," kata Staf Khusus Mendiknas Bidang Komunikasi Media, Sukemi, dalam jumpa pers di Gerai Informasi dan Media (GIM), Gedung Kemendiknas RI, Jakarta, Jum’at (26/3).
Menurut dia, sebanyak 362 siswa peserta UN program IPA dan 78 siswa program IPS di SMA Negeri 2 Medan akan mengikuti UN Pengganti yang dilaksanakan 5 April 2010, sedangkan di SMA Teladan Indrapura Kabupaten Batubara, sebanyak 40 siswa program IPA dan 77 siswa program IPS akan mengikuti UN Pengganti pada tanggal yang sama.
"Mata pelajaran yang diganti dan terindikasi siswanya tidak jujur adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk program IPS, serta Bahasa Indonesia dan Biologi untuk program IPA," katanya.
Sukemi menambahkan, sebanyak 20 siswa program studi pariwisata di SMKN 1 Singaraja Buleleng, Bali, juga akan mengikuti UN Pengganti pada 31 Maret 2010, namun hal itu bukan karena ada indikasi kecurangan, melainkan akibat tertukar soal ujian.
Sedangkan di NTB, katanya, sebanyak 20 siswa program studi pariwisata di SMK Nusa Dua, Lombok Barat, akan mengikuti UN Pengganti pada waktu yang sama. "Pada UN utama sebelumnya, para siswa itu menerima soal matematika akuntansi, padahal seharusnya mereka mengerjakan soal matematika pariwisata.
Pada kesempatan itu ia menjelaskan bahwa Posko UN di Kemendiknas RI di Jakarta, hingga Kamis (25/3), telah menerima laporan 808 pesan singkat melalui telepon genggam (SMS), 35 laporan melalui telepon, dan satu laporan melalui faksimili, yang terkait dengan pelaksanaan UN 2010.
Dari jumlah itu, kata dia, kategori yang dilaporkan terkait berbagai kejanggalan menyangkut soal UN, yaitu sebanyak 45 persen dan dugaan kebocoran (23 persen). Kemudian laporan yang menyatakan bahwa UN 2010 telah berlangsung lancar sebanyak 20 persen, laporan mengenai adanya soal-soal UN dan kunci jawabannya enam persen, dan laporan adanya gangguan UN enam persen.
"Dari jumlah tersebut, laporan mengenai adanya dugaan kebocoran, manipulasi, gangguan, dan kejanggalan, trennya terus menurun," katanya.
Minggu, Maret 21, 2010
UN SMA/MA/SMK Digelar Besok
Senin, 22 Maret 2010 serentak di seluruh Indonesia ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK digelar. Persiapan telah dilaksanakan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Terakhir pada hari Minggunya kami Panitia UN Kabupaten nongkrong di kantor dari pagi sampai sore menjelang malam menunggu dengan setia kekurangan naskah UN yang telah didistribusikan sehari sebelumnya. Kami tidak sendiri, perwakilan dari sekolah penyelenggara juga ikut serta, bagaimanapun merekalah yang berkepentingan, karena merekalah penyelenggara UN di sekolah. Keterlambatan distribusi seperti ini biasa terjadi, cuma apakah karena sudah biasa terjadi lalu menjadi hal yang legal? Mestinya tidak begitu, karena pelaksanaan suatu kegiatan sangat tergantung pada persiapannya. Kalau persiapannya baik insyaallah pada tataran pelaksanaan akan baik dan lancar-lancar saja. Tapi kami tak terlalu mempermasalahkan itu, bagi kami kerja adalah bagian dari proses untuk mencapai hasil, soal kendala diperjalanan itu adalah bagian dari proses juga yang harus dihadapi dan diatasi. Yang penting yaitu tadi "kerja sukses". Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan sukses. Kita lihat saja besok pagi.
Sabtu, Maret 20, 2010
Penandatanganan Sumpah UN 2010
Kamis, Agustus 27, 2009
AirAsia dan Tari Pendet
Semuanya berawal pada 8 Desember 2001. Ketika itu, Tune Air, mengakuisisi AirAsia dari DRB-Hicom seharga satu ringgit Malaysia saja.
Jumlah uang yang kira-kira setara dengan Rp 2.500 itu berarti dua pesawat Boeing 737 seri 300, warisan utang sekitar Rp 100 miliar, dan rute penerbangan yang sedikit.
Adalah Tony Fernandes, mantan Wakil Presiden Time Warner Music Southeast Asia, yang ada di balik proyek itu. Tony memutuskan ganti haluan karier setelah kepincut kesuksesan bisnis penerbangan minin biaya easyJet yang berbasis di London, Inggris.
Hanya diperlukan waktu tujuh bulan bagi Tony demi mengubah warisan utang beratus miliar tadi menjadi sebuah bisnis maskapai penerbangan berbiaya rendah paling menjanjikan di kawasan Asia Tenggara.
Dalam buku The AirAsia Story yang ditulis Sen Ze dan Jayne Ng, ahli strategi bisnis dan jurnalis, ada satu kata yang membuat Tony terus mengangkasa. Kegilaan.
Nyaris tak ada orang percaya Tony akan berhasil dengan metode radikalnya yang kerap disebut sebagai gila. Jauh di luar kebiasaan atau kewajaran.
Tujuh bulan, hanya tujuh bulan yang semuanya dirangkum dalam sembilan alasan utama yang muaranya ada pada detail teknis soal menafsirkan satu kata tadi. Kegilaan.
Pertama, Tony sadar perjalanan adalah industri yang sangat besar. Ia juga paham orang bakalan selalu terbang.
Ketiga, Asia adalah lapangan bermain sangat besar karena ia benua paling luas yang tentu berarti pula pasar yang sangat menjanjikan. Keempat adalah AirAsia bisa bertahan sebagai model bisnis mapan yang keberhasilannya di Eropa dan Amerika sudah terbukti.
Kelima, disebutkan bahwa armada biaya rendah menjaga biaya tetap rendah sampai pada tingkat minimum. Ini di antaranya dicapai dengan peniadaan makanan bagi penumpang, terbang ke tujuan yang paling lama 3,5 jam perjalanan sehingga menihilkan akomodasi bagi awak pesawat, mencari bandara dengan biaya termurah, penjualan tiket tanpa kertas, dan aneka strategi lain.
Keenam, AirAsia membeli bahan bakar dengan membayarnya di muka demi menghindari kenaikan harga minyak. Ketujuh, adalah model bisnis yang menguntungkan dengan harga tiket relatif murah yang menjanjikan 60 pesawat bakal beroperasi pada 2011.
Kedelapan, dengan harga tiket yang relatif rendah itu, nyaris semua orang yang sebelumnya tidak mungkin bisa terbang kini bisa mengangkasa dengan pesawat.
Kesembilan, media. Inilah kunci utama yang menjelaskan mengapa AirAsia meroket dalam waktu relatif singkat.
Media suka dan jatuh cinta pada kisah, cerita, fakta, hikayat, bahkan mungkin legenda AirAsia.
Alasan terakhir inilah yang mengangkat pamor Tony, dan tentu saja AirAsia jauh melebihi anggaran pengeluaran mereka buat beriklan.
Tony yang juga mantan orang media, ingat ia bekas eksekutif perusahaan rekaman multinasional, paham betul bagaimana memanfaatkan kekuatan media. Segala isu tentang AirAsia dan Tony ditelan media, kadang mungkin tanpa dikunyah, dengan lahapnya.
Sebut saja perseteruan dengan Malaysia Airlines, maskapai penerbangan berlayanan penuh yang merasa tersaingi. Atau perjuangan mendapatkan hak mendarat di bandara-bandara berbiaya murah hingga menembus ketat dan kakunya birokrasi Pemerintah Singapura buat beroleh hak mendarat di negeri itu.
Unsur kesembilan ini demikian pentingnya, karena nyaris semua isu tadi memang penting. Mereka sangat bernilai dan jadi seksi karena semuanya dikaitkan dengan jargon AirAsia soal “sekarang semua orang bisa terbang” (Now Everyone Can Fly) itu.
Nah, jika itu sudah terkait dengan kepentingan “semua orang,” maka kepentingan siapa lagi yang belum terwakili. Jika sudah begini, media jelas tak bisa tidak selain meliput, mempublikasikan, menayangkan, dan menyiarkannya.
Sekarang mari kita beralih pada kasus Tari Pendet. Soal yang sesungguhnya ialah kelanjutan dari Reog Ponorogo, angklung, batik, rasa sayange, dan lain-lain yang saking banyaknya saya sampai agak lupa.
Soal-soal tadi merupakan kepentingan semua orang di negeri ini. Hal yang kemudian memancing respon dan pemberitaan di nyaris semua media.
Bukankah ini bukti, betapa isu-isu seksi tadi telah bergaung berkali-kali ketimbang iklan resminya. Sebuah cara promosi yang efektif sekali.
Tapi bukankah itu sangat beresiko, karena Malaysia (terutama pemerintahnya) toh paham bahwa akar budaya dari rupa-rupa produk budaya yang mereka klaim berasal dari Indonesia. Namun lihatlah betapa ini mirip dengan strategi AirAsia ketika mengiklankan harga tiket yang hanya puluhan ribu rupiah untuk rute Surabaya-Jakarta misalnya.
Apakah AirAsia tidak takut diserbu calon penumpang yang mengamuk misalnya, karena harga tiket murah meriah begitu hanya tersedia sedikit saja.
Satu-satunya alasan AirAsia beriklan demikian ialah supaya citranya sebagai maskapai penerbangan berbiaya murah tetap terjaga. Hanya ada beberapa kursi saja yang nyatanya dijual dengan harga puluhan ribu rupiah itu, karena memang dalam setiap kali penerbangan tidak semua kursi terisi penuh.
Nah, dengan mengiklankan kursi yang diproyeksikan kosong tadi dengan harga hanya puluhan ribu rupiah saja, setidaknya ada dua keuntungan mengintai.
Pertama, jika kursi itu laku maka akan memberi kesan penerbangan itu terpercaya karena tak ada kursi tersisa. Kedua, bahka jika gagalpun, keuntungan citra sebagai maskapai penerbangan yang mampu menjual harga tiket lebih murah daripada ongkos naik Bajaj jurusan Pasar Cikini-Blok M di Jakarta sudah terpatri berkat publikasi media.
Gaya begini mirip dengan kasus Tari Pendet dan lainnya. Malaysia bisa jadi sudah memproyeksikan bahwa pada ujungnya toh produk-produk budaya tadi bakal tetap jadi milik Indonesia.
Jadi itu seperti perjudian bagi Malaysia. Diperoleh syukur, tidak dapat ya bukan soal juga.
Paling penting adalah citra dari iklan yang kemudian memantik publikasi serta kesan yang makin menguat bisa didapatkan. Dengan jargon Malaysia Asia sebenar-benarnya (Malaysia Truly Asia) maka siapa lagi yang merasa lebih Asia ketimbang mereka.
Apakah Malaysia tidak takut diserbu Indonesia yang warganya gondok luar biasa. Ya, seperti cerita tiket AirAsia, kekhawatiran itu tak pernah terbukti kan.
Lalu apa pelajaran yang bisa kita petik.
Barusan saya menonton siaran televisi. Dalam siaran itu Pemerintah Indonesia mengaku pernah protes keras sambil marah kepada Pemerintah Malaysia soal iklan-iklan pariwisata mereka yang provokatif.
Jawaban Pemerintah Malaysia lucu sekaligus jitu. Kata mereka, iklan-iklan itu dibuat rekanan swasta dan bukan oleh pemerintah.
Ini seperti taktik mengelak sekaligus menyindir birokrasi pemerintahan kita. Mereka seperti ingin berkata, berubahlah jadi efisien dan efektif atau serahkan pekerjaan itu pada profesional yang mampu.
Atau lebih jauh lagi, kira-kira ada tidak sih kaum profesional kita yang mampu membuat kemasan iklan pariwisata lebih dahsyat ketimbang yang mereka punya. Jika jawabnya ada, maka akan ada banyak sekali tantangan dan hambatan sekaligus peluang serta kesempatan menanti.
Nah, untuk ini memang perlu direspon dengan tanggung jawab kita semua.
Karena ini menyangkut pula kepedulian kita semua pada aset-aset budaya yang dipunya. Jangan belum-belum sudah main rusak sana-sini aneka peninggalan sejarah yang bahkan membuat dunia terbelalak karenanya.
Perusakan peninggalan struktur bangunan zaman Majapahit pada proyek pembangunan Pusat Informasi Majapahit di kawasan Situs Trowulan adalah salah satu contoh yang tentu masih segar dalam ingatan.
Pada kasus iklan-iklan pariwisata Malaysia yang mirip kisah AirAsia, kita seperti ditantang buat membalas dengan cara yang dua atau tiga kali lebih kreatif. Seperti AirAsia, hasilnya mesti dahsyat dan cepat.
Jadi apakah kita butuh orang-orang seperti Tony Fernandes (belakangan ditambahi gelar Datuk di depan namanya). Belum tentu juga, karena yang kita butuhkan hanya satu kata. "Kegilaan." (Kompasiana)
Jumlah uang yang kira-kira setara dengan Rp 2.500 itu berarti dua pesawat Boeing 737 seri 300, warisan utang sekitar Rp 100 miliar, dan rute penerbangan yang sedikit.
Adalah Tony Fernandes, mantan Wakil Presiden Time Warner Music Southeast Asia, yang ada di balik proyek itu. Tony memutuskan ganti haluan karier setelah kepincut kesuksesan bisnis penerbangan minin biaya easyJet yang berbasis di London, Inggris.
Hanya diperlukan waktu tujuh bulan bagi Tony demi mengubah warisan utang beratus miliar tadi menjadi sebuah bisnis maskapai penerbangan berbiaya rendah paling menjanjikan di kawasan Asia Tenggara.
Dalam buku The AirAsia Story yang ditulis Sen Ze dan Jayne Ng, ahli strategi bisnis dan jurnalis, ada satu kata yang membuat Tony terus mengangkasa. Kegilaan.
Nyaris tak ada orang percaya Tony akan berhasil dengan metode radikalnya yang kerap disebut sebagai gila. Jauh di luar kebiasaan atau kewajaran.
Tujuh bulan, hanya tujuh bulan yang semuanya dirangkum dalam sembilan alasan utama yang muaranya ada pada detail teknis soal menafsirkan satu kata tadi. Kegilaan.
Pertama, Tony sadar perjalanan adalah industri yang sangat besar. Ia juga paham orang bakalan selalu terbang.
Ketiga, Asia adalah lapangan bermain sangat besar karena ia benua paling luas yang tentu berarti pula pasar yang sangat menjanjikan. Keempat adalah AirAsia bisa bertahan sebagai model bisnis mapan yang keberhasilannya di Eropa dan Amerika sudah terbukti.
Kelima, disebutkan bahwa armada biaya rendah menjaga biaya tetap rendah sampai pada tingkat minimum. Ini di antaranya dicapai dengan peniadaan makanan bagi penumpang, terbang ke tujuan yang paling lama 3,5 jam perjalanan sehingga menihilkan akomodasi bagi awak pesawat, mencari bandara dengan biaya termurah, penjualan tiket tanpa kertas, dan aneka strategi lain.
Keenam, AirAsia membeli bahan bakar dengan membayarnya di muka demi menghindari kenaikan harga minyak. Ketujuh, adalah model bisnis yang menguntungkan dengan harga tiket relatif murah yang menjanjikan 60 pesawat bakal beroperasi pada 2011.
Kedelapan, dengan harga tiket yang relatif rendah itu, nyaris semua orang yang sebelumnya tidak mungkin bisa terbang kini bisa mengangkasa dengan pesawat.
Kesembilan, media. Inilah kunci utama yang menjelaskan mengapa AirAsia meroket dalam waktu relatif singkat.
Media suka dan jatuh cinta pada kisah, cerita, fakta, hikayat, bahkan mungkin legenda AirAsia.
Alasan terakhir inilah yang mengangkat pamor Tony, dan tentu saja AirAsia jauh melebihi anggaran pengeluaran mereka buat beriklan.
Tony yang juga mantan orang media, ingat ia bekas eksekutif perusahaan rekaman multinasional, paham betul bagaimana memanfaatkan kekuatan media. Segala isu tentang AirAsia dan Tony ditelan media, kadang mungkin tanpa dikunyah, dengan lahapnya.
Sebut saja perseteruan dengan Malaysia Airlines, maskapai penerbangan berlayanan penuh yang merasa tersaingi. Atau perjuangan mendapatkan hak mendarat di bandara-bandara berbiaya murah hingga menembus ketat dan kakunya birokrasi Pemerintah Singapura buat beroleh hak mendarat di negeri itu.
Unsur kesembilan ini demikian pentingnya, karena nyaris semua isu tadi memang penting. Mereka sangat bernilai dan jadi seksi karena semuanya dikaitkan dengan jargon AirAsia soal “sekarang semua orang bisa terbang” (Now Everyone Can Fly) itu.
Nah, jika itu sudah terkait dengan kepentingan “semua orang,” maka kepentingan siapa lagi yang belum terwakili. Jika sudah begini, media jelas tak bisa tidak selain meliput, mempublikasikan, menayangkan, dan menyiarkannya.
Sekarang mari kita beralih pada kasus Tari Pendet. Soal yang sesungguhnya ialah kelanjutan dari Reog Ponorogo, angklung, batik, rasa sayange, dan lain-lain yang saking banyaknya saya sampai agak lupa.
Soal-soal tadi merupakan kepentingan semua orang di negeri ini. Hal yang kemudian memancing respon dan pemberitaan di nyaris semua media.
Bukankah ini bukti, betapa isu-isu seksi tadi telah bergaung berkali-kali ketimbang iklan resminya. Sebuah cara promosi yang efektif sekali.
Tapi bukankah itu sangat beresiko, karena Malaysia (terutama pemerintahnya) toh paham bahwa akar budaya dari rupa-rupa produk budaya yang mereka klaim berasal dari Indonesia. Namun lihatlah betapa ini mirip dengan strategi AirAsia ketika mengiklankan harga tiket yang hanya puluhan ribu rupiah untuk rute Surabaya-Jakarta misalnya.
Apakah AirAsia tidak takut diserbu calon penumpang yang mengamuk misalnya, karena harga tiket murah meriah begitu hanya tersedia sedikit saja.
Satu-satunya alasan AirAsia beriklan demikian ialah supaya citranya sebagai maskapai penerbangan berbiaya murah tetap terjaga. Hanya ada beberapa kursi saja yang nyatanya dijual dengan harga puluhan ribu rupiah itu, karena memang dalam setiap kali penerbangan tidak semua kursi terisi penuh.
Nah, dengan mengiklankan kursi yang diproyeksikan kosong tadi dengan harga hanya puluhan ribu rupiah saja, setidaknya ada dua keuntungan mengintai.
Pertama, jika kursi itu laku maka akan memberi kesan penerbangan itu terpercaya karena tak ada kursi tersisa. Kedua, bahka jika gagalpun, keuntungan citra sebagai maskapai penerbangan yang mampu menjual harga tiket lebih murah daripada ongkos naik Bajaj jurusan Pasar Cikini-Blok M di Jakarta sudah terpatri berkat publikasi media.
Gaya begini mirip dengan kasus Tari Pendet dan lainnya. Malaysia bisa jadi sudah memproyeksikan bahwa pada ujungnya toh produk-produk budaya tadi bakal tetap jadi milik Indonesia.
Jadi itu seperti perjudian bagi Malaysia. Diperoleh syukur, tidak dapat ya bukan soal juga.
Paling penting adalah citra dari iklan yang kemudian memantik publikasi serta kesan yang makin menguat bisa didapatkan. Dengan jargon Malaysia Asia sebenar-benarnya (Malaysia Truly Asia) maka siapa lagi yang merasa lebih Asia ketimbang mereka.
Apakah Malaysia tidak takut diserbu Indonesia yang warganya gondok luar biasa. Ya, seperti cerita tiket AirAsia, kekhawatiran itu tak pernah terbukti kan.
Lalu apa pelajaran yang bisa kita petik.
Barusan saya menonton siaran televisi. Dalam siaran itu Pemerintah Indonesia mengaku pernah protes keras sambil marah kepada Pemerintah Malaysia soal iklan-iklan pariwisata mereka yang provokatif.
Jawaban Pemerintah Malaysia lucu sekaligus jitu. Kata mereka, iklan-iklan itu dibuat rekanan swasta dan bukan oleh pemerintah.
Ini seperti taktik mengelak sekaligus menyindir birokrasi pemerintahan kita. Mereka seperti ingin berkata, berubahlah jadi efisien dan efektif atau serahkan pekerjaan itu pada profesional yang mampu.
Atau lebih jauh lagi, kira-kira ada tidak sih kaum profesional kita yang mampu membuat kemasan iklan pariwisata lebih dahsyat ketimbang yang mereka punya. Jika jawabnya ada, maka akan ada banyak sekali tantangan dan hambatan sekaligus peluang serta kesempatan menanti.
Nah, untuk ini memang perlu direspon dengan tanggung jawab kita semua.
Karena ini menyangkut pula kepedulian kita semua pada aset-aset budaya yang dipunya. Jangan belum-belum sudah main rusak sana-sini aneka peninggalan sejarah yang bahkan membuat dunia terbelalak karenanya.
Perusakan peninggalan struktur bangunan zaman Majapahit pada proyek pembangunan Pusat Informasi Majapahit di kawasan Situs Trowulan adalah salah satu contoh yang tentu masih segar dalam ingatan.
Pada kasus iklan-iklan pariwisata Malaysia yang mirip kisah AirAsia, kita seperti ditantang buat membalas dengan cara yang dua atau tiga kali lebih kreatif. Seperti AirAsia, hasilnya mesti dahsyat dan cepat.
Jadi apakah kita butuh orang-orang seperti Tony Fernandes (belakangan ditambahi gelar Datuk di depan namanya). Belum tentu juga, karena yang kita butuhkan hanya satu kata. "Kegilaan." (Kompasiana)
Selasa, Agustus 04, 2009
Mbah Surip Menyusul Michael Jackson
Penyanyi fenomenal Mbah Surip meninggal dunia, Selasa (4/8/2009) pukul 10.30 WIB. Penyanyi 'Tak Gendong' itu sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.
Rabu, Juli 01, 2009
Fenomena PSB
Minggu terakhir bulan Juni ini kesibukan dan tekanan kembali dirasakan calon siswa baru dan orang tuanya. Semuanya adalah kelanjutan dari hasil pengumuman UN, yang lulus dan akan melanjutkan sibuk mencari sekolah baru yang diinginkan. Yang tidak lulus sibuk persiapan ikut ujian Paket B (untuk yang tidak lulus UN SMP sederajat)atau Paket C (bagi yang tidak lulus UN SMA sederajat), segera!, dengan harapan masih tersisa waktu hingga bisa ikut seleksi PSB (Penerimaan Siswa Baru).
Sudah dapat sekolah idaman dan mendaftar? Belum selesai, masih harus deg-degan sampai masa pendaftaran selesai karena daftar urut peringkat calon siswa baru terus berubah, biarpun daftar duluan kalau nilai UNnya kalah sama yang mendaftar kemudian ya siap-siap tergusur dan siap-siap cari sekolah lain yang kira-kira menyediakan tempat untuk nilai UN yang kita punya.
Katakan PSB selesai dan calon siswa sudah diterima, giliran orang tua yang nyut-nyutan menyediakan sejumlah dana untuk berbagai keperluan, seperti biaya untuk iuran komite, seragam sekolah, beli buku baru, tas sekolah baru, sepatu dan lain-lain termasuk sumbangan lain-lain. Itu harus dan kalau tidak berarti gagal sekolah. Lho koq gitu? Ya memang begitu, karena dimana saja kalau mau masuk sekolah bagus maka konsekuensinya adalah tidak ada biaya murah. Ternyata benar "harga tak pernah berdusta"
Sudah dapat sekolah idaman dan mendaftar? Belum selesai, masih harus deg-degan sampai masa pendaftaran selesai karena daftar urut peringkat calon siswa baru terus berubah, biarpun daftar duluan kalau nilai UNnya kalah sama yang mendaftar kemudian ya siap-siap tergusur dan siap-siap cari sekolah lain yang kira-kira menyediakan tempat untuk nilai UN yang kita punya.
Katakan PSB selesai dan calon siswa sudah diterima, giliran orang tua yang nyut-nyutan menyediakan sejumlah dana untuk berbagai keperluan, seperti biaya untuk iuran komite, seragam sekolah, beli buku baru, tas sekolah baru, sepatu dan lain-lain termasuk sumbangan lain-lain. Itu harus dan kalau tidak berarti gagal sekolah. Lho koq gitu? Ya memang begitu, karena dimana saja kalau mau masuk sekolah bagus maka konsekuensinya adalah tidak ada biaya murah. Ternyata benar "harga tak pernah berdusta"
Rabu, Juni 17, 2009
Introspeksi UN
Ketika akan menghadapi UN para siswa konsentrasi penuh, orang tua harap-harap cemas, praktisi pendidikan bekerja keras hingga semua berjalan lancar dengan berharap memperoleh hasil yang maksimal. Sekarang ketika semua berlalu dan dihadapannya terpampang babak baru, yaitu pengumuman hasil UN. Terasa lebih berat dari episode lalu, ketika terjadi musibah nasional pada pelaksanaan UN dimana ada sekolah penyelenggara yang harus mengulang UN (istilahnya UN Pengganti) karena ketidaklulusannya mencapai 100 %. Ada dua kemungkinan ketidaklulusan tersebut, pertama adanya kecurangan dalam pelaksanaan UN yang mengakibatkan kelulusannya dianulir BSNP dan harus mengulang UN, kedua ketidaklulusan yang 100 % murni karena memang tidak lulus (mungkin saja toh?). Hanya saja ada perlakuan berbeda pada dua jenis ketidaklulusan dimaksud, yaitu yang dinyatakan tidak lulus karena curang diberi kemudahan untuk mengulang UN sedang yang tidak karena kecurangan tidak ada ujian pengganti. Tidak adil kan? Yang tidak lulus karena jujur hacur dan yang tidak lulus karena curang cemerlang. Sehingga muncul sinisme di lapangan terhadap sekolah-sekolah yang kelulusannya 100 % (padahal tidak semua sekolah curang). Terlepas dari pelaksanaan UN yang amburadul (mirip masalah DPT pada Pemilu Legislatif) tentunya ada pihak yang senang dan yang murung, karena ada yang berhasil dan ada yang gagal, semuanya telah terjadi dan apapun hasilnya patut disyukuri dan dijadikan bahan introspeksi pelaksanaan UN bagi semua pihak untuk kedepan meminimalisir kesalahan yang mengakibatkan kerugian pada siswa dan orang tua siswa.
Eforia yang terjadi ketika pengumuman UN dilakukan (sepertinya terjadi di seluruh Indonesia), adalah aksi corat-coret dan konvoi kendaraan bermotor. Adalah hak siswa untuk merayakan keberhasilannya tetapi apakah mereka care pada teman mereka yang tidak lulus? (peduli amat ya? Amat saja tidak peduli). Dari sudut manapun aksi setelah pengumuman kelulusan tersebut banyak mudaratnya daripada manfaatnya, disamping merugikan orang lain juga bisa mencelakai diri sendiri. Itulah kesenangan semu. Pihak sekolah maupun instansi terkait telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir aksi-aksi tersebut sampai-sampai melibatkan aparat keamanan, tetapi sepertinya itu sudah menjadi sebab akibat yang layak terjadi dengan segala resikonya. Akhirnya ada yang celaka dijalan dan berurusan dengan pihak berwajib.
Lalu apa hikmah dari pelaksanaan UN tahun ini? Setiap orang tentu bisa dan boleh menarik hikmah apa saja dibalik terselenggaranya UN tahun ini yang penuh koreksi, suka tidak suka, puas tidak puas.
Sumonggo ……
Eforia yang terjadi ketika pengumuman UN dilakukan (sepertinya terjadi di seluruh Indonesia), adalah aksi corat-coret dan konvoi kendaraan bermotor. Adalah hak siswa untuk merayakan keberhasilannya tetapi apakah mereka care pada teman mereka yang tidak lulus? (peduli amat ya? Amat saja tidak peduli). Dari sudut manapun aksi setelah pengumuman kelulusan tersebut banyak mudaratnya daripada manfaatnya, disamping merugikan orang lain juga bisa mencelakai diri sendiri. Itulah kesenangan semu. Pihak sekolah maupun instansi terkait telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir aksi-aksi tersebut sampai-sampai melibatkan aparat keamanan, tetapi sepertinya itu sudah menjadi sebab akibat yang layak terjadi dengan segala resikonya. Akhirnya ada yang celaka dijalan dan berurusan dengan pihak berwajib.
Lalu apa hikmah dari pelaksanaan UN tahun ini? Setiap orang tentu bisa dan boleh menarik hikmah apa saja dibalik terselenggaranya UN tahun ini yang penuh koreksi, suka tidak suka, puas tidak puas.
Sumonggo ……
Senin, Juni 01, 2009
Manohara dan TKI
Kisah kisruh Manohara dan suaminya Pangeran Kelantan sebenarnya adalah kejadian yang dikalangan kita orang biasa dan rakyat jelata sering terjadi. Kisah mereka menjadi ngetop dan menyita perhatian banyak pihak dari orang kebanyakan sampai media, advokat, menteri, dubes, polisi negara tetangga dan FBI karena para aktornya adalah seorang Pangeran dan seorang mantan model Indonesia.
Lepas dari ini masalah rumah tangga yang dibumbui perilaku penyimpangan sex maupun kekerasan dalam rumah tangga, ada kemiripan logika yang nyata dan sebanding bila diukur dari jenis perilaku, yaitu kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi pada keluarga siapa saja, kapan saja dan dimana saja serta dalam variasi dan bentuk yang bermacam-macam pula.
Lebih jauh dari itu, entah itu budaya atau aplikasi dari kemapanan yang berujung arogansi atas sesama sudah banyak pula contoh kasus yang terjadi. Diantara dua negara Indonesia dan Malaysia sudah jamak terjadi sengketa mulai dari urusan perut rakyat kecil sampai sengeketa wilayah perbatasan, di darat maupun di laut sampai pula di wilayah pengakuan domain atas sebuah budaya.
Kembali ke judul tulisan diatas, mungkin terlalu cepat kalau saya menyebut beberapa paparan diatas sudah mengarah kepada sebuah kesimpulan. Tetapi begitulah kenyataanya, kalau Manohara saja yang tergolong bukan orang biasa, istri seorang pangeran, bisa dan boleh saja diberlakukan seperti apa yang banyak dibicarakan oleh media maka menjadi jamak dan lumrah pula bila banyak telah terjadi kepada para tenaga kerja Indonesia yang mengalami perlakuan atas nasib mereka yang lebih parah bahkan harus merelakan nyawanya.
Saya kira tidaklah berlebihan membandingkan Manohara dengan para pekerja Indonesia yang menjadi korban kekerasa di Malaysia. Yang perlu dan harus mendapat perhatian lebih dari kita adalah apakah sudah seperti porsi yang didapat oleh Manohara apa yang diterima oleh para pekerja Indonesia di Malaysia?
Lepas dari ini masalah rumah tangga yang dibumbui perilaku penyimpangan sex maupun kekerasan dalam rumah tangga, ada kemiripan logika yang nyata dan sebanding bila diukur dari jenis perilaku, yaitu kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi pada keluarga siapa saja, kapan saja dan dimana saja serta dalam variasi dan bentuk yang bermacam-macam pula.
Lebih jauh dari itu, entah itu budaya atau aplikasi dari kemapanan yang berujung arogansi atas sesama sudah banyak pula contoh kasus yang terjadi. Diantara dua negara Indonesia dan Malaysia sudah jamak terjadi sengketa mulai dari urusan perut rakyat kecil sampai sengeketa wilayah perbatasan, di darat maupun di laut sampai pula di wilayah pengakuan domain atas sebuah budaya.
Kembali ke judul tulisan diatas, mungkin terlalu cepat kalau saya menyebut beberapa paparan diatas sudah mengarah kepada sebuah kesimpulan. Tetapi begitulah kenyataanya, kalau Manohara saja yang tergolong bukan orang biasa, istri seorang pangeran, bisa dan boleh saja diberlakukan seperti apa yang banyak dibicarakan oleh media maka menjadi jamak dan lumrah pula bila banyak telah terjadi kepada para tenaga kerja Indonesia yang mengalami perlakuan atas nasib mereka yang lebih parah bahkan harus merelakan nyawanya.
Saya kira tidaklah berlebihan membandingkan Manohara dengan para pekerja Indonesia yang menjadi korban kekerasa di Malaysia. Yang perlu dan harus mendapat perhatian lebih dari kita adalah apakah sudah seperti porsi yang didapat oleh Manohara apa yang diterima oleh para pekerja Indonesia di Malaysia?
Kamis, April 23, 2009
KPU Pleno-KPU Didemo
22-24 April 2009 KPU Lombok Tengah Rapat Pleno di Gedung KONI. Selama tiga hari itu pula lokasi rapat pleno dijaga ketat aparat Kepolisian bersejata lengkap “standar pengamanan demo”. Mungkin karena sudah diantisipasi atau memang karena pendemonya yang nanggung jumlahnya jadi selalu nampak lebih banyak polisinya dibanding pendemonya. Padahal para pendemo mewakili beberapa caleg dari partai besar, katanya. Mungkin karena itu dampaknya tidak terlalu terasa seperti demo di kota besar. Jadinya sangat sederhana dan tidak neko-neko apalagi sampai rusuh. Pendemo bersorak-sorak, oratornya berteriak-teriak sendiri, polisinya tenang-tenang saja. Yang didemo adalah kinerja KPU yang ujung-ujungnya dianggap merugaikan caleg, seperti berkurangnya perolehan suara sehingga sang caleg gagal melangkah ke gedung dewan. Jadilah pelaksanaan demonstrasi yang berjalan aman dan terkendali. Perlu dicontoh, mungkin oleh pendemo di tempat lain yang doyan meramunya dengan rusuh dan merusak.
Rabu, April 08, 2009
PEMILU 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
