Pages

Selasa, April 21, 2009

Kelucuan Kekuasaan


Disalah satu stasiun televisi, pelawak Polo mencoba menjelaskan mengapa kelompok lawak Srimulat tak lagi eksis berpentas di Taman Ria Senayan.
Jawabannya karena Srimulat sudah kalah lucu dari pentas di gedung sebelahnya (Gedung DPR/MPR). Walaupun hanya guyonan, hal itu justru memicu hadirnya pertanyaan serius: apakah kekuasaan itu lucu? Jawabannya akan sedikit lebih tegas andai saja gedung parlemen itu dipenuhi para pelawak.
Namun, bisa saja Polo menyangkal bahwa tanpa kehadiran para pelawak pun perilaku politisinya tak kalah seru mengundang tawa. Jumlah politisi artis, termasuk yang berlatar belakang pelawak, diperkirakan melonjak pasca-Pemilu 9 April 2009.
Namun, belum tentu kelak mereka bisa melucu di forum-forum DPR yang menuntut keseriusan. Bisa jadi "politisi pelawak" sangat menyadari bahwa kalau mereka melucu, belum ada jaminan menang lucu dibandingkan yang lain.
Bisa jadi justru "politisi bukan pelawak" malah lebih lucu. Barangkali karena itulah, "politisi pelawak" seperti Komar sungguh tampak tidak lucu lagi di kala mengikuti rapat-rapat DPR. Soal kelucuan politik, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)-lah maestronya. Sewaktu menjadi presiden, banyak joke (cerita lucu) yang dilontarkannya.
Buku kumpulan leluconnya sangat laris saat itu. Tak hanya para pejabat nasional dan lokal yang dibikin tertawa oleh cerita-cerita lucu sang presiden, tetapi juga bahkan Presiden Amerika Serikat waktu itu, Bill Clinton. Saking lucunya Gus Dur, ilmuwan sosial Arief Budiman pernah menyindir bahwa Gus Dur hendak menyelesaikan begitu kompleksnya urusan negara dan pemerintahan dengan lelucon.
Sungguh pun Gus Dur lantas lengser secara dramatis melalui Sidang Istimewa MPR yang dipercepat, dia tercatat telah membawakan sejumlah perubahan mendasar. Gus Dur adalah salah satu khazanah bangsa di dunia politik, yang hendak membuktikan bahwa "kekuasaan itu lucu".
Bahwa ada dimensi kelucuan dalam kekuasaan. Gus Dur ingin membuktikan bahwa di era demokrasi pun kelucuan-kelucuan kekuasaan itu masih demikian melekat. Gus Dur sendiri pernah memberi kata pengantar sebuah buku humor politik Mati Ketawa Cara Rusia dan memberikan pesan bahwa otoritarianisme bisa dilawan dengan lelucon.

Lucu
Namun, apakah lucu itu? Secara sederhana pertanyaan itu dapat dijawab, lucu adalah sesuatu yang membuat kita tertawa. Kalau itu yang jadi soal, pertanyaannya adalah apa saja yang membuat kita tertawa? Marilah kita bikin daftar: (1) lucu yang datangnya dari kisah-kisah yang tidak logis, sarkastik, kurang masuk akal ala Gus Dur; (2) menertawakan keteledoran, kelalaian, kepongahan, bahkan kemalangan ala Charlie Chaplin; (3) lucu karena ada gerakan-gerakan tertentu yang membuat tertawa.
Kelucuan adalah drama komedi, lawan dari tragedi. Sayangnya banyak hal yang membuat kita justru menertawakan musibah. Film-film komedi yang dibintangi Charlie Chaplin atau film kartun Tom and Jerry penuh adegan musibah alias kemalangan dan kita terbahak-bahak. Adegan-adegan slapstick dalam film-film komedi memang sering terkesan terlalu dibuat-buat untuk memaksa penontonnya tertawa.
Ada skenario lucu yang dikarang terlebih dulu, beberapa adegan sengaja dibikin hiperbolis guna mengundang tawa. Namun, ada juga yang memang bersifat situasional atau yang dikenal dengan istilah komedi situasi. Ini lebih merupakan adegan lucu yang tanpa diskenariokan.
Barangkali kelucuan jenis inilah yang banyak mengemuka di panggung-panggung politik kita.Tentu saja para kampanyewan dan kampanyewati tidak berniat melucu sewaktu orasi tebar janji dan bernyanyi-nyanyi. Tentulah para negosiator politik (baik lelaki maupun perempuan) tak bermaksud melucu saat menentukan perubahan-perubahan sikap politik yang ekstrem.
Namun, hal-hal itu banyak ditafsirkan orang sebagai kelucuan- kelucuan tersendiri. Para penyindir kekuasaan telah memperoleh banyak bahan dari perilaku-perilaku para politisi dalam memanfaatkan dan menciptakan bahasa politiknya.
Politik tak hanya seni menentukan koalisi dan kebijakan, tetapi juga seni berkata-kata, dan jauh daripada itu berbahasa. Menurut novelis George Orwell (1946), "Political language is designed to make lies sound truthful and murder respectable, and to give an appearance of solidity to pure wind". Apakah politik itu semacam sistematisasi kebohongan yang dimaafkan? Pertanyaan ini tentu segara memunculkan perdebatan.

Tidak Lucu
Tapi, peristiwa politik kadang juga disebut sebagai "tidak lucu". Istilah ini lebih merujuk pada kejengkelan, kedongkolan bahkan kemarahan pada suatu peristiwa politik. Misalnya, banyaknya warga masyarakat yang punya hak pilih tetapi tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu Legislatif 9 April sungguh "tidak lucu". Yang "tidak lucu" itu tentu sudah dirasakan keterlaluan dan sangat mengganggu.
Janji-janji politisi yang di luar nalar, sangat melambung dan absurd, tentu juga sudah "tidak lucu" sedari awal. Jadi batas antara yang "lucu" dan "tidak lucu" dalam politik sangat tipis dan kontekstual. Kalau demikian, politisi yang suka berpindah-pindah partai, apakah lucu atau tidak lucu? Yang suka berubah-ubah sikap "dalam sekejap" dan berlomba-lomba "balik badan" lucu atau tidak?
Barangkali kita akan mengukurnya bahwa kalau masih membuat kita tertawa, kita sebut lucu, tetapi kalau sudah membuat ketertawaan menjadi kejengkelan, maka sungguh tidak lucu. Para humoris mencoba mengklasifikasi guntingan-guntingan peristiwa dan adegan politik yang lucu dan menyisihkan yang tidak lucu untuk bahan lawakannya.
Namun, para kritikus politik sebaliknya, sibuk mencatat mana-mana dari adegan politik yang "tidak lucu". Kalau begitu di manakah tempat bagi Abu Nawas dan Nasruddin Hoja? Mereka "menertawakan kekuasaan" dengan caranya sendiri. Dalam suatu kisah, Abu Nawas sukses memantati Khalifah Harun al-Rasyid tanpa membuat sang raja marah, bahkan terpingkal-pingkal karena bagian pantat celana Abu Nawas diberi gambar yang lucu.
Kisah Nasruddin berikut menyinggung perilaku politisi. Suatu saat Nasruddin menjadi pelayan istana, termasuk mengurus makanan raja. Suatu hari di depan hidangan lezat raja bertanya, apakah hidangan itu terbuat dari sayuran terbaik di dunia.
Nasruddin menjawab teramat baik. Sang raja pun suka makanan itu, tapi lima hari kemudian bosan, dan memerintahkan untuk menyingkirkannya. Nasruddin berupaya membela diri dengan mengatakan bahwa hidangan itu dibuat dari sayuran terburuk di dunia.
"Belum satu minggu," kata raja, "engkau mengatakan itu sayuran terbaik, mengapa sekarang mengatakan yang terburuk?" Nasruddin menjawab, "Memang benar Tuanku, tapi dalam hal ini hamba pelayan raja, bukan pelayan sayuran." Esok kedelai, sore tempe.okezone.com(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar